Jika mau kaya, berdaganglah!
Download format pdf
Menjadi seorang pedagang
adalah pekerjaan mulia, asalkan aturan agama dilaksanakan dengan baik.
Menjadi
seorang pengusaha harus memiliki mental kuat. Dengan seiring perjalanan anda
berdagang atau berbisnis, maka anda akan menemukan jalan sendiri menuju puncak
kesuksesan anda.
Berdagang adalah pekerjaan yang
dilakukan Muhammad SAW dari kecil sampai dewasa. Berdagang atau berbisnis
adalah pintu rezeki yg paling banyak, karena dalam berdagang kalau sukses maka
cepat kaya, dan kalau gagal bisa mencoba lagi untuk bangkit. Kita sering mendengar
hadist bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah berdagang, walaupun menurut para
ahli hadistnya dhaif, namun content nya benar. Simpul perdagangan merupakan
simpul rezeki yang kadang tidak bisa di logikakan, kadang suka ada keajaiban dalam
prosesnya.
Menjadi seorang pedagang bukanlah
termasuk pekerjan dengan kasta yang rendah. Padahal segala aspek pekerjaan
adalah jual beli. Perusahaan mendapatkan income dari penjualan produk yang
dibuat, hakikatnya perusahaan adalah sosok pedagang tapi berupa lembaga.
Menjadi seorang
pedagang adalah pekerjaan mulia juga, asalkan rambu-rambu agama dilaksanakan
dengan baik. Menjadi
seorang pengusaha harus memiliki mental kuat. Dengan seiring perjalanan anda
berdagang atau berbisnis, maka anda akan menemukan jalan sendiri menuju puncak
kesuksesan anda.
Di dalam al – quran
ditegaskan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu
mengubah nasibnya sendiri. Disampaikan pula di ayat yang lain bahwa tiada yang
manusia dapatkan, kecuali apa yang ia usahakan. Itu artinya, manusia diizinkan
dan dimampukan oleh Allah untuk memperbaiki keadaan, termasuk menjadi pribadi
yang mandiri.
Dalam kemandirian dan
entrepreneurship, kita bisa belajar dari kisah seorang sahabat yang bernama
Abdurrahman bin Auf. Ketika berangkat hijrah dari Mekkah ke Madinah, ia tidak
mengantongi bekal sama sekali. Setiba di madinah, ia pun ditawari sebidang
kebun kurma. Alih-alih menyetujui tawaran tersebut, ia malah minta ditunjukkan
jalan menuju pasar.
Fenomena ini sungguh
menarik. Rupa-rupanya Abdurrahman bin Auf memilih berbisinis dari pada
menerima harta yang bukan usahanya, seperti pepatah mengatakan lebih memilih
mencari kail ketimbang menerima ikan.
Tidak berapa lama
kemudian, ia berhasil menjadi seorang entrepreneur. Bukan sembarang
entrepreneur, melainkan entrepreneur yang kaya raya. Bahkan sewaktu peperangan
terjadi, tidak sedikit yang ia sedekahkan untuk para pejuang.
Bukankah kemandirian
dan entrepreneurship juga telah dicontohkan dengan sempurna oleh Nabi Muhammad
SAW lebih dari 1.400 tahun yang silam? Tatkala berusia 8 tahun – meski yatim
piatu – Muhammad cilik sudah menjadi penggembala yang mandiri. Umur 12 tahun –
katakanlah kelas 6 SD – ia sudah menjadientrepreneur dan sudah berdagang sampai
ke Syiria. Tidak cukup sampai di situ. Umur 25 tahun, ia sudah menjadi
entrepreneur yang kaya raya dan sudah berdagang ke luar negeri tidak kurang
dari 18 kali.
Bayangkan saja,
jangkauan perdagangan Muhammad muda mencapai Yaman, Syiria, Busra, Iraq, Yordania,
Bahrain, dan simpul-simpul perdagangan lainnya di jazirah Arab. Sekedar
catatan, ketika itu ia belum diangkat sebagai rosul. Hitung punya hitung, lebih
lama ia berkiprah sebagai entrepreneur ketimbang sebagai nabi. Tepatnya, 25
tahun banding 23 tahun. Dalam perkembangannya, ia pun diakui sebagai
entrepreneur yang sangat terpercaya, sehingga digelari Al – Amin.
Saat menikah,
ternyata ia sanggup menyerahkan 20 unta muda sebagai mas kawin. Jika di
rupiahkan untuk konteks sekarang, maka jumlah mas kawinnya sekitar satu miliar
rupiah. Luar biasa! Padahal semasa merintis bisnis, ia tidak mengantongi modal
sepeser pun. Nah, apa rahasianya? Tidak lain, tidak bukan, rahasianya terletak
pada kepercayaan. Berbekal kepercayaan itulah, ia mengelola modal orang lain dengan
sistem upah ataupun bagi hasil.
Begitulah, Nabi
Muhammad adalah seorang entrepreneur. Demikian pula istrinya dan
sahabat-sahabatnya.
"Jika kamu ingin kaya, maka
berdaganglah kamu," Kalimat tersebut sepertinya tidak terlalu berlebihan
jika melihat data dari dulu hingga sekarang kebanyakan orang kaya adalah
pedagang. eLFa

No comments:
Post a Comment