Saturday, October 20, 2018

Jika mau kaya, berdaganglah!


Jika mau kaya, berdaganglah!


Download format pdf



Menjadi seorang pedagang adalah pekerjaan mulia, asalkan aturan agama dilaksanakan dengan baik. Menjadi seorang pengusaha harus memiliki mental kuat. Dengan seiring perjalanan anda berdagang atau berbisnis, maka anda akan menemukan jalan sendiri menuju puncak kesuksesan anda.

Berdagang adalah pekerjaan yang dilakukan Muhammad SAW dari kecil sampai dewasa. Berdagang atau berbisnis adalah pintu rezeki yg paling banyak, karena dalam berdagang kalau sukses maka cepat kaya, dan kalau gagal bisa mencoba lagi untuk bangkit. Kita sering mendengar hadist bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah berdagang, walaupun menurut para ahli hadistnya dhaif, namun content nya benar. Simpul perdagangan merupakan simpul rezeki yang kadang tidak bisa di logikakan, kadang suka ada keajaiban dalam prosesnya.
Menjadi seorang pedagang bukanlah termasuk pekerjan dengan kasta yang rendah. Padahal segala aspek pekerjaan adalah jual beli. Perusahaan mendapatkan income dari penjualan produk yang dibuat, hakikatnya perusahaan adalah sosok pedagang tapi berupa lembaga.
Menjadi seorang pedagang adalah pekerjaan mulia juga, asalkan rambu-rambu agama dilaksanakan dengan baik. Menjadi seorang pengusaha harus memiliki mental kuat. Dengan seiring perjalanan anda berdagang atau berbisnis, maka anda akan menemukan jalan sendiri menuju puncak kesuksesan anda.
Di dalam al – quran ditegaskan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu mengubah nasibnya sendiri. Disampaikan pula di ayat yang lain bahwa tiada yang manusia dapatkan, kecuali apa yang ia usahakan. Itu artinya, manusia diizinkan dan dimampukan oleh Allah untuk memperbaiki keadaan, termasuk menjadi pribadi yang mandiri.
Dalam kemandirian dan entrepreneurship, kita bisa belajar dari kisah seorang sahabat yang bernama Abdurrahman bin Auf. Ketika berangkat hijrah dari Mekkah ke Madinah, ia tidak mengantongi bekal sama sekali. Setiba di madinah, ia pun ditawari sebidang kebun kurma. Alih-alih menyetujui tawaran tersebut, ia malah minta ditunjukkan jalan menuju pasar.
Fenomena ini sungguh menarik. Rupa-rupanya Abdurrahman bin Auf memilih berbisinis dari pada menerima harta yang bukan usahanya, seperti pepatah mengatakan lebih memilih mencari kail ketimbang menerima ikan.
Tidak berapa lama kemudian, ia berhasil menjadi seorang entrepreneur. Bukan sembarang entrepreneur, melainkan entrepreneur yang kaya raya. Bahkan sewaktu peperangan terjadi, tidak sedikit yang ia sedekahkan untuk para pejuang.
Bukankah kemandirian dan entrepreneurship juga telah dicontohkan dengan sempurna oleh Nabi Muhammad SAW lebih dari 1.400 tahun yang silam? Tatkala berusia 8 tahun – meski yatim piatu – Muhammad cilik sudah menjadi penggembala yang mandiri. Umur 12 tahun – katakanlah kelas 6 SD – ia sudah menjadientrepreneur dan sudah berdagang sampai ke Syiria. Tidak cukup sampai di situ. Umur 25 tahun, ia sudah menjadi entrepreneur yang kaya raya dan sudah berdagang ke luar negeri tidak kurang dari 18 kali.
Bayangkan saja, jangkauan perdagangan Muhammad muda mencapai Yaman, Syiria, Busra, Iraq, Yordania, Bahrain, dan simpul-simpul perdagangan lainnya di jazirah Arab. Sekedar catatan, ketika itu ia belum diangkat sebagai rosul. Hitung punya hitung, lebih lama ia berkiprah sebagai entrepreneur ketimbang sebagai nabi. Tepatnya, 25 tahun banding 23 tahun. Dalam perkembangannya, ia pun diakui sebagai entrepreneur yang sangat terpercaya, sehingga digelari Al – Amin.
Saat menikah, ternyata ia sanggup menyerahkan 20 unta muda sebagai mas kawin. Jika di rupiahkan untuk konteks sekarang, maka jumlah mas kawinnya sekitar satu miliar rupiah. Luar biasa! Padahal semasa merintis bisnis, ia tidak mengantongi modal sepeser pun. Nah, apa rahasianya? Tidak lain, tidak bukan, rahasianya terletak pada kepercayaan. Berbekal kepercayaan itulah, ia mengelola modal orang lain dengan sistem upah ataupun bagi hasil.
Begitulah, Nabi Muhammad adalah seorang entrepreneur. Demikian pula istrinya dan sahabat-sahabatnya.
"Jika kamu ingin kaya, maka berdaganglah kamu," Kalimat tersebut sepertinya tidak terlalu berlebihan jika melihat data dari dulu hingga sekarang kebanyakan orang kaya adalah pedagang. eLFa

No comments:

Post a Comment

BEST ARTICLE

Contoh RPP Terpadu