Sunday, December 16, 2018

Islamic English Forum

Renungan untuk Guru

RENUNGAN UNTUK GURU


Renungan untuk Guru download format pdf

URAIAN PERTAMA

Contoh Buletin Islami

BULETIN ISLAMI
Just for sample

Buletin Islami pdf  download link

KUMPULAN KATA MUTIARA UNTUK PENDIDIKAN


TADZKIRAH
KUMPULAN KATA MUTIARA UNTUK PENDIDIKAN




Tadzkirah 1
Mulailah setiap pekerjaanmu dengan menyebut nama Allah SWT, sehingga semua amalmu dinilai ibadah oleh Allah SWT.

Tadzkirah 2
“Guru kadang ucapannya tidak diperhatikan oleh anak-anak, tapi kadang anak-anak senang memperhatikan pakaian, sikap dan cara guru mengajar. Maka berhati-hatilah dalam mengajar”
( Ust. Masykur )

Tadzkirah 3
“Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung pada niatnya, maka niatkanlah yang terbaik”.

Tadzkirah 4
“ Renungkan… setiap perjuangan selalu ada gangguan, kesulitan atau mungkin banyak anak nakal. Ingatlah!... itu semua adalah ujian keikhlasan dan kesabaran bagi kita”.

Tadzkirah 5
“ Jangan pernah mengucapkan “kamu bodoh” atau “ kamu  nakal. Jangan melihat keburukan anak, jangan melakukan hal yang membuat anak sedih, marah dan menjadi putus asa.”

Tadzkirah 6
“ Rasa adil, kasih sayang dan kesabaran adalah tiga hal yang selalu dibutuhkan oleh anak-anak”.

Tadzkirah 7
“Doa memberikan kekuatan pada anak yang lemah, membuat anak tidak percaya menjadi percaya dan memberikan keberanian pada anak yang
ketakutan. Sertakanlah do’a untuk anak-anak dalam setiap do’a kita kepada Allah”.

Tadzkirah 8
“ Memperingatkan seorang anak di depan umum itu bentuk lain dari ejekan. Tak ada seorangpun yang rela dipermalukan di depan umum meskipun ia anak nakal. Nasehatilah ia secara khusus waktu sendirian”.

Tadzkirah 9
“ Ingatlah… yang terpenting adalah memperbaiki kesalahan anak bukan menyalahkan kenakalan anak. Ajarilah anak yang kurang baik dengan nasehat dan akhlaq yang baik. Sesungguhnya menyalahkan diri sendiri lebih baik dari pada menyalahkan anak-anak”.

Tadzkirah 10
“ Jika kita baik maka teman kita juga baik, murid kita baik, hati kita baik dan ucapan kita menjadi selembut kapas”.

Tadzkirah 11
“ Semakin sering guru bertemu muridnya maka semakin bijaksana. Semakin sering murid ketemu gurunya semakin pandai anaknya”.

Tadzkirah 12
“ Sebelum kita mengatakan anak kita nakal. Lihatlah dosa apa yang pernah kita perbuat. Mungkin kita menzalimi anak sebelum anak menzalimi kita. Mungkin kita maksiat kepada Allah sebelum anak maksiat kepada kita”.

Tadzkirah 13
“ Jika kamu mendapatkan kesulitan ketika mengajar maka bersabarlah, dan jika kamu  mendapatkan kesenangan (kemudahan) dalam mengajar maka bersyukurlah”.

Tadzkirah 14
“ Makanlah seperti apa yang dimakan anak, maka kamu akan tahu  apa yang dirasakan oleh anak. Maksudnya, jika anak-anak dalam kesempitan  janganlah kita bersenang-senang sehingga kita lupa pada penderitaan anak”.

Tadzkirah 15
Abdan bin Tabib berkata,
“Tiap orang berusaha mengajarkan kasih sayang, harapan dan kesadaran”
Umar bin Khattab berkata, “ Dengan inilah dunia dibangun…”
“Kalau kamu menyerahkan segala sesuatu kepada Allah, maka hati kamu akan selalu terasa lapang”.

Tadzkirah 16
Kenalilah anak sebagaimana engkau mengenal dirimu, lakukan yang terbaik untuk anak sebagaimana engkau melakukan yang terbaik untuk dirimu. Perlakukan anak dengan perlakuan yang engkau sendiri senang jika diperlakukan seperti itu.

Sebagai seorang guru (pendidik), bila murid-murid kita berasal dari keluarga yang harmonis dan bahagia, maka tugas kita akan semakin mudah.
Tetapi bila murid kita TIDAK berasal dari keluarga yang harmonis dan bahagia, maka tugas kita menjadi semakin PENTING.


 Tahnk you

Saturday, October 20, 2018

Jika mau kaya, berdaganglah!


Jika mau kaya, berdaganglah!


Download format pdf



Menjadi seorang pedagang adalah pekerjaan mulia, asalkan aturan agama dilaksanakan dengan baik. Menjadi seorang pengusaha harus memiliki mental kuat. Dengan seiring perjalanan anda berdagang atau berbisnis, maka anda akan menemukan jalan sendiri menuju puncak kesuksesan anda.

Berdagang adalah pekerjaan yang dilakukan Muhammad SAW dari kecil sampai dewasa. Berdagang atau berbisnis adalah pintu rezeki yg paling banyak, karena dalam berdagang kalau sukses maka cepat kaya, dan kalau gagal bisa mencoba lagi untuk bangkit. Kita sering mendengar hadist bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah berdagang, walaupun menurut para ahli hadistnya dhaif, namun content nya benar. Simpul perdagangan merupakan simpul rezeki yang kadang tidak bisa di logikakan, kadang suka ada keajaiban dalam prosesnya.
Menjadi seorang pedagang bukanlah termasuk pekerjan dengan kasta yang rendah. Padahal segala aspek pekerjaan adalah jual beli. Perusahaan mendapatkan income dari penjualan produk yang dibuat, hakikatnya perusahaan adalah sosok pedagang tapi berupa lembaga.
Menjadi seorang pedagang adalah pekerjaan mulia juga, asalkan rambu-rambu agama dilaksanakan dengan baik. Menjadi seorang pengusaha harus memiliki mental kuat. Dengan seiring perjalanan anda berdagang atau berbisnis, maka anda akan menemukan jalan sendiri menuju puncak kesuksesan anda.
Di dalam al – quran ditegaskan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu mengubah nasibnya sendiri. Disampaikan pula di ayat yang lain bahwa tiada yang manusia dapatkan, kecuali apa yang ia usahakan. Itu artinya, manusia diizinkan dan dimampukan oleh Allah untuk memperbaiki keadaan, termasuk menjadi pribadi yang mandiri.
Dalam kemandirian dan entrepreneurship, kita bisa belajar dari kisah seorang sahabat yang bernama Abdurrahman bin Auf. Ketika berangkat hijrah dari Mekkah ke Madinah, ia tidak mengantongi bekal sama sekali. Setiba di madinah, ia pun ditawari sebidang kebun kurma. Alih-alih menyetujui tawaran tersebut, ia malah minta ditunjukkan jalan menuju pasar.
Fenomena ini sungguh menarik. Rupa-rupanya Abdurrahman bin Auf memilih berbisinis dari pada menerima harta yang bukan usahanya, seperti pepatah mengatakan lebih memilih mencari kail ketimbang menerima ikan.
Tidak berapa lama kemudian, ia berhasil menjadi seorang entrepreneur. Bukan sembarang entrepreneur, melainkan entrepreneur yang kaya raya. Bahkan sewaktu peperangan terjadi, tidak sedikit yang ia sedekahkan untuk para pejuang.
Bukankah kemandirian dan entrepreneurship juga telah dicontohkan dengan sempurna oleh Nabi Muhammad SAW lebih dari 1.400 tahun yang silam? Tatkala berusia 8 tahun – meski yatim piatu – Muhammad cilik sudah menjadi penggembala yang mandiri. Umur 12 tahun – katakanlah kelas 6 SD – ia sudah menjadientrepreneur dan sudah berdagang sampai ke Syiria. Tidak cukup sampai di situ. Umur 25 tahun, ia sudah menjadi entrepreneur yang kaya raya dan sudah berdagang ke luar negeri tidak kurang dari 18 kali.
Bayangkan saja, jangkauan perdagangan Muhammad muda mencapai Yaman, Syiria, Busra, Iraq, Yordania, Bahrain, dan simpul-simpul perdagangan lainnya di jazirah Arab. Sekedar catatan, ketika itu ia belum diangkat sebagai rosul. Hitung punya hitung, lebih lama ia berkiprah sebagai entrepreneur ketimbang sebagai nabi. Tepatnya, 25 tahun banding 23 tahun. Dalam perkembangannya, ia pun diakui sebagai entrepreneur yang sangat terpercaya, sehingga digelari Al – Amin.
Saat menikah, ternyata ia sanggup menyerahkan 20 unta muda sebagai mas kawin. Jika di rupiahkan untuk konteks sekarang, maka jumlah mas kawinnya sekitar satu miliar rupiah. Luar biasa! Padahal semasa merintis bisnis, ia tidak mengantongi modal sepeser pun. Nah, apa rahasianya? Tidak lain, tidak bukan, rahasianya terletak pada kepercayaan. Berbekal kepercayaan itulah, ia mengelola modal orang lain dengan sistem upah ataupun bagi hasil.
Begitulah, Nabi Muhammad adalah seorang entrepreneur. Demikian pula istrinya dan sahabat-sahabatnya.
"Jika kamu ingin kaya, maka berdaganglah kamu," Kalimat tersebut sepertinya tidak terlalu berlebihan jika melihat data dari dulu hingga sekarang kebanyakan orang kaya adalah pedagang. eLFa

BEST ARTICLE

Contoh RPP Terpadu